Kamis, 20 Juni 2013

Bab 3 : PROTEKSI

Materi ini adalah lanjutan dari klik in here

III. PROTEKSI
1 Proteksi
  Dalam pembahasan mengenai proteksi berkas, kita akan berbicara lebih mengenai sisi keamanan dan mekanisme bagaimana menjaga keutuhan suatu berkas dari gangguan akses luar yang tidak dikehendaki. Sebagai contoh bayangkan saja Anda berada di suatu kelompok kerja dimana masing-masing staf kerja disediakan komputer dan mereka saling terhubung membentuk suatu jaringan; sehingga setiap pekerjaan/dokumen/ berkas dapat dibagi-bagikan ke semua pengguna dalam jaringan tersebut. Misalkan lagi Anda harus menyerahkan berkas RAHASIA.txt ke atasan Anda, dalam hal ini Anda harus menjamin bahwa isi berkas tersebut tidak boleh diketahui oleh staf kerja lain apalagi sampai dimodifikasi oleh orang yang tidak berwenang. Suatu mekanisme pengamanan berkas mutlak diperlukan dengan memberikan batasan akses ke setiap pengguna terhadap berkas tertentu.

2 Pendekatan Pengamanan Lainnya
   Salah satu pendekatan lain terhadap masalah proteksi adalah dengan memberikan sebuah kata kunci (password) ke setiap berkas. Jika kata-kata kunci tersebut dipilih secara acak dan sering diganti, pendekatan ini sangatlah efektif sebab membatasi akses ke suatu berkas hanya diperuntukkan bagi pengguina yang mengetahui kata kunci tersebut.
Meski pun demikian, pendekatan ini memiliki beberapa kekurangan, diantaranya: Kata kunci yang perlu diingat oleh pengguna akan semakin banyak, sehingga membuatnya menjadi tidak praktis.
Jika hanya satu kata kunci yang digunakan di semua berkas, maka jika sekali kata kunci itu diketahui oleh orang lain, orang tersebut dapat dengan mudah mengakses semua berkas lainnya. Beberapa sistem (contoh: TOPS-20) memungkinkan seorang pengguna untuk memasukkaan sebuah kata kunci dengan suatu subdirektori untuk menghadapi masalah ini, bukan dengan satu berkas tertentu.
Umumnya, hanya satu kata kunci yang diasosiasikan dengan semua berkas lain. Sehingga, pengamanan hanya menjadi semua-atau-tidak sama sekali. Untuk mendukung pengamanan pada tingkat yang lebih mendetail, kita harus menggunakan banyak kata kunci


Selasa, 18 Juni 2013

DAMPAK TINGKAT INFLASI, SUKU BUNGA, DAN JUMLAH UANG, BEREDAR TERHADAP NILAI TUKAR DOLLAR AMERIKA PADA EMITEN DI BURSA EFEK INDONESIA

DAMPAK TINGKAT INFLASI, SUKU BUNGA, DAN
JUMLAH UANG, BEREDAR TERHADAP
NILAI TUKAR DOLLAR AMERIKA PADA EMITEN DI BURSA EFEK INDONESIA

Abstract
  Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa jauh efek perubahan Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika oleh tiga faktor ekonomi: tingkat inflasi, suku bunga dan jumlah uang beredar, dan juga untuk mengetahui link kausalitas nya.
Evaluasi yang dilakukan oleh beberapa data tingkat inflasi, suku bunga dan jumlah uang beredar dari bahwa dua negara. Sebuah regresi berganda dilakukan untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh variabel di atas. Beberapa uji statistik, yang berhubungan dengan regresi, dilakukan juga. Juga uji kausalitas Granger dilakukan untuk mengetahui link kausalitas.
Berdasarkan data yang dianalisis dalam penelitian ini, ada beberapa kesimpulan sebagai berikut: (1) jika tingkat inflasi, suku bunga dan jumlah uang beredar yang digunakan sebagian, tidak ada pengaruh yang signifikan atau berpengaruh terhadap perubahan nilai tukar. (2) dengan cara lain, jika faktor yang terintegrasi dalam menggunakan analisis, ada cukup signifikan. (3) dan terakhir, untuk suku bunga dan jumlah uang beredar memiliki hubungan kausalitas terhadap perubahan nilai tukar, tetapi tidak tingkat inflasi. Karena faktor ini lebih beberapa kali hubungan dengan kebijakan pemerintah dalam fiskal dan moneter.
Kata Kunci: inflasi, suku bunga, nilai tukar.

Pendahuluan
Latar Belakang masalah
   Berkembangnya proses globalisasi, dimana seperti tidak adanya batas antar negara di dunia serta nampaknya setiap negara menjadi terintegrasi, maka kegiatan atau aktivitas ekonomi pun sekarang juga telah menjadi satu kesatuan yang global (globally unified). Perubahan yang terjadi pada ekonomi suatu negara, secara cepat mempengaruhi ekonomi negara lain terutama negara-negara yang menjadi partner ekonomi atau mempunyai hubungan ekonomi yang sangat erat.
   Perubahan-perubahan dalam aktivitas ekonomi ini biasanya tercermin dalam perubahan atau fluktuasi nilai mata uang. Dan tentu saja, konsekuensinya bagi perusahaan-perusahaan multinasional atau perusahaan-perusahaan eksportir atau importir akan menghadapi kecemasan-kecemasan dalam hal devaluasi atau revaluasi. Belum lagi mengantisipasi aktivitas para spekulan mata uang yang kadang cukup signifikan mempengaruhi nilai mata uang. Dalam berbagai hal devaluasi bisa dikaitkan dengan depresiasi dan revaluasi dengan apresiasi.
   Berdasarkan sudut pandang teori makroekonomi, ada empat faktor yang bisa mempengaruhi nilai tukar, yaitu tingkat suku bunga, tingkat inflasi, peredaran uang dan neraca pembayaran. Ketiga faktor yang pertama merupakan faktor-faktor yang sangat penting dalam mempengaruhi atau menentukan nilai tukar. Sedangkan neraca pembayaran merupakan faktor yang cukup kompleks, karena dalam pendekatannya mempertimbangkan lebih banyak faktor ekonomi dibanding ketiga lainnya yang diatas.

Masalah penelitian
A. Perumusan masalah
Masalah diatas dapat dirumuskan sebagai berikut :
a. Bagaimana dampak perubahan tingkat inflasi, tingkat suku bunga dan money supply secara parsial yang menyebabkan perubahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika ?
b. Berapa perubahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika yang sebenarnya dengan didasarkan pada ketiga faktor secara bersama-sama ditambah dengan fkator- perubahan nilai tukar pada periode sebelumnya ?
c. Bagaimana hubungan sebab akibat (Kausalitas) antara perubahan nilai tukar pada periode sebelumnya ?

Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah :
  1. Untuk melihat signifikansi perubahan tingkat suku bunga, perubahan tingkat inflasi dan perubahan money supply secara parsial terhadap perubahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika yang sebenarnya.
  2. Untuk menentukan nilai tukar yang seharusnya dari Rupiah terhadap Dollar Amerika dengan menggunakan faktor perubahan tingkat suku bunga, perubahan tingkat inflasi, dan perubahan money supply secara bersama-sama ditambah dengan faktor perubahan nilai tukar pada periode sebelumnya.
Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian bagi umum adalah untuk sebagai pertimbangan bagi semua pihak terutama pelaku-pelaku ekonomi yang dalam keseharian aktivitas ekonomi dan bisnisnya terpengaruh atau berhubungan dengan nilai tukar Rupiah dangan Dollar Amerika.
Keterbatasan Penelitian
Untuk mempermudah dan agar penelitian ini lebih terarah dan mudah untuk dipahami sesuai dengan tujuan pembahasan, maka ruang lingkup penelitiannya mencakup :
  1. Penelitian dilakukan hanya pada indikator ekonomi tingkat inflasi, tingkat suku bunga dan money supply yang dimana mudah dalam data dan pemahaman.
  2. Data yang diambil adalah data tingkat inflasi, tingkat suku bunga, dan money supply di Indonesia dan Amerika Serikat, serta nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika selama kurun waktu dari tahun 1997 sampai dengan pertengahan 2001.
Kerangka Teoritis
  1. Sistem Moneter Internasional
       Sistem Moneter Internasional, menurut Shapiro (1999) dasarnya mengacu kepada sekumpulan kebijakan. Institusi, dan mekanisme yang menentukan nilai dimana sebuah mata uang ditukar dengan mata uang lain. Sedangkan menurut Chacholiades (1990), mengacu kepada kerangka kerja dari aturan, regulasi, dan konvensi yang mengatur hubungan finansial antar negara. Namun selanjutnya Chacholiades mengatakan bahwa sistem moneter internasional dapat diasumsi menjadi banyak bentuk yang berbeda. Semua sistem moneter internasional, bagaimanapun bentuknya, mempunyai banyak persamaan dan hanya berbeda sedikit.
       Untuk menghindari kebijakan ekonomi yang destruktif di masa depan, sekelompok negara setuju dengan sistem moneter yang baru pada saat konferensi yang diadakan di Bretton Eoods, New Hampshire pada tahun 1944. Konferensi tersebut juga melahirkan dua institusi baru yaitu IMF (International Monetary Fund) dan IBRD (International Bank for Reconstruction and Development)/ World Bank. Dan pada Desember 1971, dengan persetujuan Smithsonia dollar didevaluasi menjadi 1/38 ounce emas serta mata uang lain dinilai ulang. Semenjak itu dunia mulai beralih ke sistem nilai tukar mengambang.
       Ketika terjadi krisis moneter 1998 di Asia, khususnya Indonesia, muncul sistem moneter yang bernama CBS (Currency Board Systems). Sistem CBS ini akan membentuk suatu Currency Board yaitu suatu lembaga yang mengeluarkan uang kertas, uang logam, dan deposito yang sepenuhnya dapat ditukar dengan mata uang acuan pada nilai tukar tetap.
       Tujuan utama CBS di Indonesia adalah menetapkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Hal ini dilakukan dengan peg mechanism (mematok/merancang) kurs rupiah terhadap US$ pada pasar tertentu. Implikasi penerapan CBS di Indonesia tidak hanya mengenai pemberlakuan nilai tukar fixed antara mata uang rupiah dengan mata uang dollar, tetapi juga berdampak pada perubahan kebijaksanaan sistem moneter yang selama ini diterapkan.
  2. Macam-Macam Sistem Nilai Tukar
    Dikenal beberapa macam sistem nilai tukar, yaitu :
    • Sistem Nilai Tukar Tetap (fixed exchange rate)
      Salah satu kondisi utama yang diperlukan agar arus perdagangan dan investasi internasional atau antarnegara dapat berjalan lancar adalah sistem nilai tukar atau foreign exchange rate yang tetap atau stabil. Sehingga akan memberikan kepastian kepada kegiatan perdagangan dan investasi atau dunia bisnis internasional pada umumnya (Hady ;1999).
    • Sistem Nilai Tukar Mengambang (floating exchange rate)
      Dalam Sistem nilai tukar mengambang ini nilai tukar mata uang ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran pada pasar valuta asing (valas). Apabila penentuan nilai tukar valas di pasar valas tersebut terjadi tanpa campur tangan pemerintah maka disebut sebagai sistem clean float atau freely floating system atau sistem nilai tukar mengambang murni. Sebaliknya, apabila pemerintah turut campur tangan mempengaruhi permintaan dan penawaran terhadap valas di pasar valas maka disebut sebagai dirty float atau managed floating system atau sistem nilai tukar mengambang terkendali.
    • Sistem Nilai Tukar Terkait (Pegged Exchange Rate System)
      Sistem nilai tukar ini dilakukan dengan mengaitkan nilai mata uang suatu negara dengan nilai mata uang negara lain atau sejumlah mata uang tertentui. Sistem ini antara lain dilakukan oleh beberapa negara Afrika yang mengaitkan nilai mata uangnya dengan mata uang Prancis (r’RF) dan beberapa negara lain.
    • Target-Zone Arrangement
      Banyak para ekonom dan pembuat kebijakan mengatakan bahwa negara-negara industri bisa mengurangi pergerakan dari nilai tukar dan menciptakan stabilitas ekonomi jika Amerika Serikat, Jerman Jepang menghubungkan mata uang mereka dalam sistem zona target. Pada Target-Zone Arrangement, negara-negara menyesuaikan kebijakan nasional ekonominya untuk menjaga nilai tukar mereka pada suatu margin yang telah disepakati, nilai tukar tetap central (Shapiro ;1999).
3. Beberapa Faktor Yang Mempengaruhi Nilai Tukar
Secara umum yang mempengaruhi nilai tukar, adalah faktor-faktor atau kondisi seperti faktor fundamental, faktor teknis, faktor psikologis dan faktor spekulasi. Sedangkan “secara tidak langsung” penawaran (Supply) dan permintaan (demand) dari suatu mata uang dipengaruhi oleh :
 Neraca Pembayaran atau Balance of Payment
 Tingkat inflasi
 Tingkat suku bunga
 Tingkat pendapatan
 Peraturan dan kebijakan pemerintah
 Spekulasi, ekspetasi, isu dan rumor
4. Hubungan Nilai Tukar Dengan Inflasi dan Tingkat Suku Bunga
a. Purchasing Power Parity Theory
Pengaruh tingkat inflasi terhadap kurs mata uang asing dapat dijelaskan dengan Purchasing Power Parity Theory (PPP) atau teori kesamaan daya beli, yang diperkenalkan oleh Gustav Cassel pada tahun 1918. Ada berbagai versi dari teori PPP. Yang pertama adalah versi absolut, yang juga disebut law of one price (LOP), yang dimana menyatakan bahwa harga suatu barang atau produk yang sama di dua negara yang berbeda akan sama pula dinilai dalam mata uang yang sama. Jika ada perbedaan harga dalam mata uang yang sama, maka akan ada perubahan permintaan sehingga harga barang juga berubah. Konsekuensinya perubahan harga yang terjadi akan berakibat pada penyesuaian nilai tukar.
b. Interest Rate Parity Theory
Interest Rate Parity Theory (IRP) atau teori IRP adalah salah satu teori yang paling dikenal dalam keuangan internasional yang menerangkan bagaimana hubungan bursa mata uang asing dengan pasar uang internasional. Teori ini menyatakan bahwa perbedaan tingkat bunga pada pasar uang internasional akan cenderung sama dengan forward rate premium atau discount.
Dalam kenyataannya, korelasi antara tingkat bunga, inflasi dan nilai tukar tidaklah signifikan, karena dipengaruhi secara simultan oleh kejadian baru dan informasi yang sama (Kulkarni ; 1999). Karena setiap kali ada perubahan yang terjadi akan selalu diikuti oleh penyesuaian-penyesuaian yang akan dilakukan.
A. Kerangka Pemikiran
Dari beberapa faktor atau indikator ekonomi yang sering digunakan adalah tingkat inflasi, tingkat suku bunga dan money supply. Dari sekian banyak teori, tingkat inflasi mempunyai atau bisa mempengaruhi nilai tukar mata uang pada pasar uang. Begitu pula dengan tingkat suku bunga dan money supply yang juga bisa mempengaruhi nilai tukar mata uang. Namun dengan keterbasan dan kekurangan ketiga faktor secara terpisah atau parsial, maka untuk dapat menentukan nilai tukar mata uang yang lebih baik, maka akan dilakukan dengan melakukan penggunaan faktor tingkat inflasi, tingkat suku bunga dan money supply secara bersamaan ditambah dengan perubahan nilai tukar pada periode sebelumnya
Gambar. 1.1. Skema Kerangka Pemikiran
B. Perumusan Hipotesis
Berdasarkan permasalahan dan kerangka pemikiran yang ada, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :
1. Tidak signifikan dalam menentukan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika dengan menggunakan pendekatan tingkat suku bunga, pendekatan tingkat inflasi dan money supply secara terpisah.
2. Terdapat pengaruh yang cukup signifikan secara bersama-sama dari tingkat suku bunga, tingkat inflasi dan money supply di Indonesia dan Amerika Serikat terhadap nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika yang ditambah dengan faktor perubahan nilai tukar untuk periode sebelumnya.
3. Adanya hubungan kausalitas antara nilai tukar dengan tingkat suku bunga, tingkat inflasi dan money supply di Indonesia dan Amerika Serikat terhadap nilai tukar Rupiah terhadap Dollare Amerika yang ditambah dengan faktor perubahan nilai tukar untuk periode sebelumnya. Walaupun dalam kenyataannya nilai tukar lebih tergantung pada pasar dan ketiga faktor ekonomi lainnya lebih tergantung pada kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah atau badan yang berwenang.
Metodologi Penelitian
A. Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian berisi pernyataan tentang bagaimana data akan dikumpulkan, diolah, dan dianalisis dengan suatu pembuktian dan pengujian untuk mencapai suatu tujuan. Dalam penelitian ini akan digunakan penelitian regresional, yaitu untuk melihat pengaruh tingkat suku bunga, tingkat inflasi, dan jumlah uang beredar (money supply) serta pengaruh perubahan dari periode sebelumnya terhadap nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika.
Tujuan dari penelitian regresional ini adalah untuk melihat pengaruh antara sebuah atau beberapa variabel dengan variabel lainnya. Dan dari sini akan diperoleh sebuah persamaan regresi yang akan digunakan untuk menentukan nilai tukar dari Rupiah terhadap Dollar Amerika.
B. Variabel dan Pengukurannya
Adapun variabel penelitian ini adalah :
1. Tingkat Inflasi
a. Tingkat inflasi Indonesia
b. Tingkat inflasi Amerika Serikat
2. Tingkat suku bunga
a. Tingkat suku bunga Indonesia
b. Tingkat suku bunga Amerika Serikat
3. Jumlah uang yang beredar (money supply)
a. Money supply di Indonesia
b. Money supply di Amerika Serikat
Pengukuran adalah suatu prosedur pengamatan secara identik yang menghasilkan bilangan aspek atau obyek yang diamati atau diukur. Pengukuran yang digunakan adalah ukuran nominal, yang digunakan pada kedua jenis variabel, baik variabel bebas (independent) maupun pada variabel tak bebas (dependent).
Variabel Ukuran
Independent Tingkat Suku Bunga
Tingkat Inflasi
Money Supply
Perubahan nilai tukar untuk periode sebelumnya a. Tingkat Suku Bunga Indonesia
b. Tingkat Suku Bunga Amerika Serikat
a. Tingkat Inflasi Indonesia
b. Tingkat Inflasi Amerika
a. Money Supply di Indonesia
b. Money Supply di Amerika Serikat
Nominal
Dependent Perubahan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dollar Amerika Serikat Nominal
C. Prosedur Penarikan Data
Data yang diambil adalah data-data tingkat suku bunga di Indonesia dan Amerika Serikat, tingkat inflasi di Indonesia dan Amerika Serikat, money supply di Indonesia dan Amerika Serikat serta nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika. Data-data yang digunakan adalah data dari tahun 1997 sampai pertengahan tahun 2001 untuk keempat variabel tersebut.
D. Teknik Pengumpulan Data
Penelitian yang dilakukan bersifat kuantitaif yaitu untuk meneliti hubungan antara nilai tukar dengan tingkat inflasi, tingkat suku bunga dan money supply. Sehingga dengan itu akan dapat ditentukan nilai tukar berdasarkan tingkat inflasi, suku bunga dan money supply. Pengumpulan data untuk penelitian ini didapat dengan cara mendatangi lembaga-lembaga pemerintah dan lembaga-lembaga lainnya yang dianggap dapat memberikan informasi atau data yang dibutuhkan. Dengan demikian teknik pengumpulan data dilakukan dengan data sekunder.
E. Metode Analisis Data
Sesuai dengan tujuannya, dalam penelitian ini, maka metode analisa yang akan digunakan adalah regresi linear berganda, yang dimana akan diperoleh persamaan sebagai berikut:
%ER = a + b(%Eri-l ) + c(Mih – Mif ) + d(ih – if) + e(Eh – Ef)
Dimana : ih = tingkat suku bunga di Indonesia
if = tingkat suku bunga di Amerika Serikat
Eh = tingkat inflasi di Indonesia
Ef = tingkat inflasi di Amerika Serikat
M1h = money supply di Indonesia
M1f = money supply di Amerika Serikat
%ER = Perubahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar
%ERi-1 = Perubahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar periode sebelumnya
Lalu dilakukan uji durbin watson untuk memeriksa ada atau tidak autokorelasi, sebab dalam asumsi regresi linear adalah tidak terdapatnya autokorelasi. Lalu uji t dilakukan untuk menguji apakah masing-masing variabel bebas bisa memberi signifikansi terhadap variabel terikat secara terpisah serta uji F yang dilakukan untuk menguji pengaruh secara bersama-sama semua variabel bebas terhadap variabel terikat. Dan yang terakhir adalah uji kausalitas (Granger’s Causality test) untuk melihat ada tidaknya hubungan kausalitas.
Analisa dan Pembahasan
A. Analisa Dengan Pendekatan PPP, IRP dan Money Supply
Seperti yang telah disebutkan, pendekatan secara teoritis adalah dengan membandingkan perubahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika secara terpisah berdasarkan faktor tingkat suku bunga yang terkait dengan teori IRP (Interest Rate Parity), faktor inflasi yang terkait dengan teori PPP (Purchasing Power Parity) dan faktor money supply
Dengan Pendekatan berdasarkan tingkat inflasi saja, sebelumnya dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini :
TAHUN Q TINGKAT INFLASI Eh-Ef NILAI TUKAR RUPIAH / 1 US$ Change(%)
USA INDONESIA
1997 Q1 1,07 1,96 0,89 2402,0 0,80
Q2 0,38 0,62 0,24 2431,9 1,24
Q3 0,38 2,92 2,54 3269,0 34,42
Q4 0,47 3,01 2,54 5402,5 65,26
1998 Q1 0,19 19,20 19,01 8550,0 58,26
Q2 0,56 18,30 17,74 14950,0 74,85
Q3 0,37 20,10 19,73 10850,0 -27,42
Q4 0,37 4,78 4,41 8000,0 -26,27
1999 Q1 0,37 4,76 4,39 8725,0 9,06
Q2 1,01 -0,67 -1,68 6705,0 -23,15
Q3 0,55 -2,22 -2,77 8300,0 23,79
Q4 0,64 -0,09 -0,73 7100,0 -14,46
2000 Q1 0,99 2,45 1,46 7580,0 6,76
Q2 1,08 1,04 -0,04 8760,0 15,57
Q3 0,80 2,24 1,44 8775,0 0,17
Q4 0,53 2,84 2,31 9675,0 10,26
2001 Q1 0,96 2,94 1,98 9752,0 0,80
Q2 1,04 0,03 -1,01 11390,0 16,80
Tabel 1. Perbandingan PPP dengan perubahan nilai tukar sebenarnya
Seperti dilihat pada tabel 1 diatas, maka perubahan nilai tukar tidak dapat didasarkan pada tingkat inflasi saja. Ambil contoh, seperti pada tahun 2000 untuk kuarter pertama dengan menggunakan teori PPP perubahan nilai tukar seharusnya adalah 1,46 % namun pada perubahan sesungguhnya yang terjadi adalah sekitar 6,76 %. Atau kalau kita tarik mundur pada tahun 1999 kuarter ketiga, dengan menggunakan teori PPP perubahan nilai tukar seharusnya adalah -2,77 %, namun pada perubahan sesungguhnya yang terjadi adalah sekitar 23,79%.
Lalu dengan pendekatan berdasarkan tingkat suku bunga saja, ada baiknya melihat terlebih dahulu pada tabel 2 berikut ini :
TAHUN Q TINGKAT SUKU BUNGA Ih-If NILAI TUKAR RUPIAH / 1 US$ Change(%)
USA INDONESIA
1997 Q1 5,00 11,07 6,07 2402,0 0,80
Q2 5,00 10,50 5,50 2431,9 1,24
Q3 5,00 22,00 17,00 3269,0 34,42
Q4 5,00 20,00 15,00 5402,5 65,26
1998 Q1 5,00 27,75 22,75 8550,0 58,26
Q2 5,00 58,00 53,00 14950,0 74,85
Q3 5,00 68,76 63,76 10850,0 -27,42
Q4 4,50 38,44 33,94 8000,0 -26,27
1999 Q1 4,73 37,84 33,11 8725,0 9,06
Q2 4,75 22,05 17,30 6705,0 -23,15
Q3 5,09 13,02 7,93 8300,0 23,79
Q4 5,31 12,51 7,20 7100,0 -14,46
2000 Q1 5,68 11,03 5,35 7580,0 6,76
Q2 6,27 11,74 5,47 8760,0 15,57
Q3 6,52 13,62 7,10 8775,0 0,17
Q4 6,47 14,53 8,06 9675,0 10,26
2001 Q1 5,59 15,82 10,23 9752,0 0,80
Q2 4,33 16,65 12,32 11390,0 16,80
Tabel 2. Perbandingan PPP dengan perubahan nilai tukar sebenarnya
Seperti dilihat pada tabel 2 diatas, maka perubahan nilai tukar tidak dapat didasarkan pada tingkat suku bunga saja. Ambil contoh, seperti pada tahun 2000 untuk kuarter kedua dengan menggunakan teori IRP perubahan nilai tukar seharusnya adalah 5,47% namun pada perubahan sesungguhnya yang terjadi adalah sekitar 15,57%. Atau kalau kita tarik mundur pada tahun 1999 kuarter ketiga, dengan menggunakan teori IRP perubahan nilai tukar seharusnya adalah 7,2% namun pada perubahan sesungguhnya yang terjadi adalah sekitar -14,46%.
Lalu dengan pendekatan berdasarkan faktor money supply saja, ada baiknya melihat terlebih dahulu pada tabel 3 berikut ini :
TAHUN Q NILAI TUKAR
RUPIAH / 1 US$ Change (%) Change M1 (%) M1h M1f
USA INDONESIA
1997 Q1 2402,0 0,80 -2,00 -0,82 1,18
Q2 2431,9 1,24 -0,32 10,04 10,36
Q3 3269,0 34,42 -0,45 -5,28 -4,83
Q4 5402,5 65,26 3,57 18,24 14,67
1998 Q1 8550,0 58,26 -1,98 25,44 27,41
Q2 14950,0 74,85 -0,07 11,41 11,47
Q3 10850,0 -27,42 -0,41 -6,32 -5,91
Q4 8000,0 -26,27 4,71 -1,33 -6,04
1999 Q1 8725,0 9,06 -2,13 4,45 6,59
Q2 6705,0 -23,15 0,07 0,25 0,17
Q3 8300,0 23,79 -1,00 11,48 12,48
Q4 7100,0 14,46 -5,54 5,51 -0,03
2000 Q1 7580,0 6,76 -3,50 0,02 3,53
Q2 8760,0 15,57 -0,56 7,36 7,92
Q3 8775,0 0,17 -1,19 1,19 2,38
Q4 9675,0 10,26 2,25 20,49 18,24
2001 Q1 9752,0 0,80 -0,44 -9,08 -8,64
Q2 11390,0 16,80 1,33 7,93 6,60
Tabel 3.
Perbandingan perubahan pada money supply dengan perubahan nilai tukar sebenarnya
Seperti dilihat padatabel 3 diatas, maka perubahan nilai tukar tidak dapat didasarkan pada perubahan money supply saja. Ambil contoh, seperti pada tahun 2000 untuk kuarter kedua dengan menggunakan pendekatan perubahan money supply, perubahan nilai tukar seharusnya adalah 7,92 % namun pada perubahan sesungguhnya yang terjadi adalah sekitar 12,57%. Atau kalau kita tarik mundur pada tahun 1999 kuarter kedua, dengan menggunakan perubahan money supply, perubahan nilai tukar seharusnya adalah 0,17 % namun pada perubahan sesungguhnya yang terjadi adalah sekitar -23,15%.
Dari ketiga hasil diatas maka terlihat bahwa dengan menggunakan ketiga faktor tersebut secara terpisah tidak dapat menentukan perubahan nilai tukar yang terjadi. Banyak perbedaan-perbedaan yang ada antara nilai tukar yang seharusnya dengan nilai tukar yang sebenarnya.
B. Analisa Dengan Pendekatan Statistik
1. Uji Durbin-Watson
Seperti yang telah disebutkan pada bab sebelumnya, dimana asumsi yang mendasari suatu pengujian di dalam regresi linear harus memenuhi asumsi dasar bahwa tidak terdapat autokorelasi antara variable bebas yang satu dengan variable bebas yang lainnya. Dalam uji ini diperoleh nilai D =2,332. Pada table Durbin-Watson terdapat dua nilai yaitu nilai bawah (dl) dan nilai atas (du). Jika nilai D yang diperoleh berada diatas nilai du, maka tidak terjadi autokorelasi sedangkan, jika nilai D berada dibawah nilai dl, maka terjadi autokorelasi. Dengan menggunakan level of significance = 0,01 dan k = 4 (jumlah variable dikurang 1) didapat nilai dl = 0,61 dan du = 1,60. Karena nilai D yang diperoleh adalah 2,332, maka nilai ini terletak diatas nilai du sehingga dengan kata lain tidak terjadi autokorelasi dalam regresi ini.
2. Uji -t
Uji t dilakukan untuk melihat apakah koefisien-koefisien masing-masing variable bebas signifikan atau tidak terhadap variable tak bebas secara terpisah. Dalam uji t harus ditentukan derajat kebebasan (df) yang dimana diperoleh dari jumlah sample dikurangi jumlah regresor (variable). Pada penelitian ini didapat derajat kebebasan adalh 13 /2 = 0,005, maka(18-5=13). Dengan level of significance = 0,01, dan t didapat nilai t-tabel adalah 3,012. Sedangkan dari nilai perhitungan nilai t untuk semua variable berada di bawah nilai t-tabel, sehingga dari hal ini dapat diartikan bahwa semua variable bebas yaitu inflasi suku bunga dan money supply tidak signifikan terhadap variable tak bebas dalam hal ini perubahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika secara parsial atau terpisah. Oleh karena itu harus dilakukan pengujian dalam hal
ini uji-F untuk melihat secara bersama-sama cukup signifikan mempengaruhi nilai tukar.
3. Uji -F
Adapun tujuan dari Uji-F ini adalah seperti disebutkan sebelumnya adalah untuk mengetahui adanya signifikansi terhadap perubahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika, jika ketiga variable bebas digunakan secara bersama-sama. Dalam uji-F ini, jika nilai F hitung lebih kecil dari nilai F yang diperoleh dari table, maka hipotesa yang dibuat dapat diterima. Dari perhitungan yang ada, diperoleh nilai F adalah sebesar 2,97145 dan nilai F table yang diperoleh dengan sedikit tabulasi adalah 14,31. Seperti dilihat, nilai F hitung ternyata lebih kecil dari nilai F table, sehingga dapat diartikan bahwa bahwa ada signifikansi terhadap variable tak bebas dalam hal ini perubahan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar Amerika yang disebabkan oleh ketiga faktor bebas secara bersamaan dalam hal ini tingkat inflasi, suku bunga dan money supply ditambah dengan perubahan nilai tukar sebelumnya.
Dari uji-uji yangtelah dilakukan serta perhitungan-perhitungan statistik maka diperoleh persamaan regresi sebagai berikut :
Y = -1,104 + 0,140X1 + 1,942X2 + 0,008X3 + 0,344X4
Dimana : Y = Perubahan nilai tukar
X1 = Perubahan nilai tukar periode sebelumnya
X2 = Perubahan money supply
X3 = Tingakt suku bunga
X4 = Tingkat inflasi
Dengan : X2 = M1h – M1f
X3 = 1h – 1f
X4 = Eh – Ef
Sedangkan : Ih = tingkat suku bunga di Indonesia
If = tingkat suku bunga di Amerika Serikat
Eh = tingkat inflasi di Indonesia
Ef = tingkat inflasi di Amerika Serikat
M1h = money supply di Indonesia
M1f = money supply di Amerika Serikat
Dari persamaan regresi diatas maka dapat dilihat bahwa, jika terjadi kenaikan sebesar 1 % pada perubahan nilai tukar pada periode sebelumnya akan menyebabkan perubahan nilai tukar sebesar 0,140 %. Sedangkan jka terjadi kenaikan sebesar 1 % pada selisih perubahan money supply antara Indonesia dan Amerika akan menyebabkan perubahan nilai tukar sebesar 1,942 %. Lalu jika terjadi kenaikan 1 % pada selisih tingkat suku bunga antara Indonesia dan Amerika akan menyebabkan perubahan nilai tukar sebesar 0,008 %. Dan jika terjadi kenaikan 1 % pada selisih tingkat inflasi antara Indonesia dan Amerika akan menyebabkan perubahan nilai tukar sebesar 0,344%. Dan perlu diperjelas lagi bahwa perubahan yang disebabkan oleh setiap variable bebas tersebut harus dilakukan secara simultan atau bersama-sama, tidak bisa dilihat dari satu – persatu variabel bebas tersebut.
Dan yang terakhir adalah hasil dari uji kausalitas yang digunakan untuk melihat hubungan mempengaruhi pada arah sebaliknya. Dari perhitungan yang telah dilakukan untuk faktor nilai tukar pada periode sebelumnya, perubahan money supply, dan tingkat suku bungan didapat nilai uji – F berturut – turut adalah 6,143 untuk perubahan nilai tukar periode sebelumnya,4,05909 untuk perubahan money supply, dan 11,90719 untuk tingkat suku bunga. Sehingga dari nilai –nilai tersebut yang dimana berada dibawah nilai F-tabel yang sebesar 14,31, maka dapat diartikan untuk ketiga faktor ini terhadap perubahan nilai tukar terjadi bilateral causality. Sedangkan untuk faktor inflasi didapat nilai F sebesar 22,38732 sehingga untuk faktor ini tidak terjadi hubungan kausalitas pada arah sebaliknya.
Kesimpulan dan Saran
A. Kesimpulan
Dari uji-uji statistik yang telah dilakukan, diperoleh hasil dimana ketika ketiga faktor yang digunakan secara bersama ditambah faktor perubahan nilai tukar pada periode atau kurun waktu sebelumnya, akan memberikan pengaruh kepada perubahan nilai tukar sebesar 0,140 % jika terjadi kenaikan sebesar 1 % pada perubahan nilai tukar periode sebelumnya. Sedangkan jika terjadi kenaikan sebesar 1 % pada selisih perubahan money supply antara Indonesia dan Amerika akan menyebabkan perubahan nilai tukar sebesar 1,942 %. Lalu, jika terjadi kenaikan sebesar 1 % pada selisih tingkat suku bunga antara Indonesia dan Amerika akan menyebabkan perubahan nilai tukarsebesar 0,008% . Dan jika terjadi kenaikkan sebesar 1% pada selisih tingkat inflasi antara Indonesia dan Amerika akan menyebabkan perubahan nilai tukar sebesar 0,344%.
B. Saran dan Implikasi
Dalam penelitian ini, digunakan faktor-faktor yang sangat umum digunakan dan mudah dalam pemahaman sehingga bisa … masa yang akan datang berbeda dengan yang diperkirakan dari persamaan regresi yang diperoleh. Ini disebabkan dalam ekonomi terlalu banyak faktor yang harus dipertimbangkan selain kompleksitas dari masalah ekonomi itu sendiri. Faktor-faktor seperti nilai ekspor dan impor serta posisi Balance of Payment (BOP) yang secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi nilai tukar. Selain itu juga keterbatasan data yang diperoleh, bisa juga membuat penelitian ini, dimasa yang akan datang dapat lebih disempurnakan dengan menambah jumlah data. Selain itu, dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi awal untuk melakukan penelitian-penelitian lain dengan objek-objek penelitian yang lain seperti dengan perubahan nilai tukar Rupiah dan Yen Jepang, atau dengan negara-negara lain yang dimana merupakan mitra bisnis dan ekonomi negara Indonesia.

Daftar Pustaka
Azahari, Azril. Bentuk dan Gaya Penulisan Karya Tulis Ilmiah. Jakarta: Universitas Trisakti, 2000
Berstein, Jake. How The Future Markets Works. Second Edition. New York: New York Institute Of Finance, 2000
ChaCholiades, Miltiades. International Economics. New York: The Mc Graw-Hill Companies, 1990
Gujarati, Damodar N. Basic Econometrics. Third Edition. New York: The Mc Graw-Hill Companies, 1995
Hady, Hamdy. Ekonomi Internasional Buku Kedua, Edisi Revisi Jakarta: Ghalia Indonesia, 2000
Hady, Hamdy. Valas Untuk Manager. Jakarta: Ghalia Indonesia, 1997
Husnan, Suad. Dasar-Dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas, Edisi Ketiga. Yogyakarta: UPP AMP YKPN, 1998
Madura, Jeff. Internatinal Financial Management, Sixth Edition. USA: South-Western College Publishing, 2000.
Krugman, Paul R dan Maurice Obstfeld, Ekonomi Internasional, Buku Kedua, Edisi Kedua. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada, 1994.
Reynolds, Bob. Memahami Derivatif. Batam: Interaksara, 2000.
Sp. Iswardono. Uang Dan Bank, Edisi Keempat. Yogyakarta BPFE, 1998
Sevilla, Counselo G. et al. An Introduction to Research Methods. Manila: Res Bookstore, 1984.
Schiller, Bradley R. Essentials Of Economics, Second Edition. New York: The McGraw-Hill Companies, 1996.
Umar, Husein. Research Methods in Finance and Banking. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2000.
Wahana Komputer Semarang. 10 Model Penelitian dan Pengolahannya dengan SPSS 10.01. Yogyakarta: Andi dan Wahana Komputer, 2002.

PERUSAHAAN MANUFAKTUR

                              AKUNTANSI UNTUK PERUSAHAAN MANUFAKTUR

Karakteristik Perusahaan Manufaktur

     Perusahaan manufaktur (manufacturing firm) adalah perusahaan yang kegiatannya mengolah bahan baku menjadi barang jadi kemudian menjual barang jadi tersebut. Kegiatan khusus dalam perusahaan manufaktur adalah pengolahan bahan baku menjadi barang jadi. Kegiatan ini sering disebut proses produksi. Kegiatan produksi, apabila digambarkan akan nampak seperti di bawah ini:
http://www.crayonpedia.org/wiki/images/3/3d/Purno218.jpg
Bidang akuntansi yang menangani masalah produksi disebut akuntansi biaya (cost accounting). Tujuannya, menetapkan beban pokok produksi barang jadi. Bab ini akan membahas sesuai ruang lingkup yang telah disebutkan, yakni penetapan beban pokok produksi. Titik berat pembahasan masih diletakkan pada pengenalan terhadap proses akuntansi dan laporan khusus untuk perusahaan manufaktur.

Masalah Khusus Perusahaan Manufaktur

     Dibandingkan dengan perusahaan dagang, masalah khusus dalam akuntansi perusahaan manufaktur adalah persediaan, biaya pabrikasi (manufacturing costs), biaya produksi dan beban pokok produksi.
Persediaan (Inventory)
Berdasarkan perusahaan dagang, dalam perusahaan manufaktur biasanya terdiri dari tiga macam, yakni:
1. Persediaan bahan baku (raw materials inventory)
2. Persediaan barang dalam proses (work in process inventory)
3. Persediaan barang jadi (finished goods inventory)
     Persediaan bahan baku melaporkan harga pokok bahan baku yang ada pada tanggal neraca. Bahan baku adalah barang-barang yang digunakan dalam proses produksi. Persediaan dalam proses terdiri dari biaya bahan baku dan biaya-biaya manufaktur lain yang telah terjadi untuk memproduksi barang yang belum selesai. Untuk menyelesaikannya masih diperlukan tambahan biaya. Persediaan barang jadi terdiri dari total biaya pabrik untuk barang-barang yang telah selesai diproduksi, tetapi belum dijual. Sebuah perusahaan manufaktur dengan demikian harus menyediakan tiga perkiraan untuk persediaan.

Biaya Manufaktur (Manufacturing Cost)

Biaya-biaya yang terjadi dalam perusahaan manufaktur selama suatu periode disebut biaya manufaktur (manufacturing cost), atau lebih dikenal dengan biaya pabrik. Biaya ini digunakan untuk menyelesaikan barang yang masih sebagian selesai di awal periode, barang-barang yang dimasukkan dalam proses produksi periode itu dan barang-barang yang baru dapat diselesaikan sebagian di akhir periode. Pada dasarnya biaya pabrik dapat dikelompokkan menjadi:
  • Biaya bahan baku (raw materials cost) yaitu biaya untuk bahan-bahan yang dapat dengan mudah dan langsung diidentifikasikan dengan barang jadi. Contoh bahan baku adalah kayu bagi perusahaan mebel atau tembakau bagi perusahaan rokok.
  • Biaya tenaga kerja lansung (direct labor cost) adalah biaya untuk tenga kerja yang menangani secara langsung proses produksi atau yang dapat diidentifikasikan langsung dengan barang jadi. Contoh buruh langsung adalah tukang kayu dalam perusahaan mebel atau pelinting rokok dalam perusahaan rokok (Sigaret Kretek Tangan = SKT).
  • Biaya overhead pabrik (overhead cost) adalah biaya-biaya pabrik selain bahan baku dan tenga kerja langsung. Biaya ini tidak dapat diidentifikasikan secara langsung dengan barang yang dihasilkan.
Contoh biaya overhead pabrik adalah:
(1) bahan pembantu (kadangkadang disebut: bahan tidak langsung (indirect materials) misalnya perlengkapan pabrik (mur, baut dan pelitur dalam perusahaan mebel);
(2) tenga kerja tidak langsung (indirect labor) yaitu tenaga kerja yang pekerjaannya tidak dapat diidentifikasikan secara langsung dengan barang yang dihasilkan, misalnya gaji mandor;
(3) pemeliharaan dan perbaikan (maintenance and repair);
(4) listrik, air telepon dan lainlain.
Ketiga jenis biaya manufaktur ini dapat dihubungkan dan dilihat keterkaitannya dengan memperhatikan bagan yang diilustrasikan di bawah ini.
Biaya Produksi (Production Cost) dan Biaya Periode (Period Cost)
Biaya produksi (production cost) adalah biaya yang dibebankan dalam proses produksi selama suatu periode. Biaya ini terdiri dari persediaan barang dalam proses awal ditambah biaya pabrikasi (manufacturing cost), kemudian dikurangi dengan persediaan barang dalam proses akhir. Biaya pabrikasi adalah semua biaya yang berhubungan dengan proses produksi. Tiga komponen biaya yang terdapat dalam biaya produksi adalah biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead. Biaya overhead adalah semua biaya pabrikasi (semua biaya yang terkait dengan proses produksi) yang bersifat tidak langsung, termasuk biaya-biaya yang dibebankan pada persediaan dalam proses pada akhir periode. Biaya overhead ini  seringkali tidak dapat diatribusikan/dilekatkan pada masing-masing unit produk yang dikerjakan secara spesifik. Karena biaya ini biasanya dinikmati bersama selama proses produksi berlangsung. Dalam situasi tertentu dapat pula disebut sebagai biaya bersama (common cost). Biaya bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung sering pula disebut sebagai biaya utama (prime cost), yaitu biaya yang merupakan komponen utama dari produk yang dibuat dan dapat dengan mudah diatribusikan pada masing-masing unit produk yang dikerjakan atau dibuat. Biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead sering pula disebut sebagai biaya konversi (conversion cost), yaitu biaya yang dikeluarkan atau terjadi sehingga bahan baku dapat diubah menjadi produk jadi.
Kelompok biaya lain selain biaya produksi adalah biaya periode (period cost), yaitu biaya nonpabrikasi yang dikeluarkan atau terjadi selama periode berjalan dalam rangka operasional perusahaan. Biaya ini dapat dibagi menjadi dua kelompok, yakni beban penjualan atau pemasaran dan beban-beban administratif. Klasifikasi biaya yang berbeda-beda ini dilakukan agar dapat mengukur kinerja atau prestasi masing-masing bagian secara lebih fair. Kata lainnya adalah, alokasi yang tepat akan dapat meningkatkan pertanggungjawaban masingmasing bagian. Sehingga sebuah beban, bisa jadi teralokasikan ke dalam pos-pos yang berbeda walaupun jenisnya sama. Beban depresiasi komputer, misalnya, bisa jadi merupakan kelompok biaya overhead, jika komputer tersebut berada di atau dipergunakan untuk kegiatan oleh departemen produksi. Mungkin juga merupakan beban pemasaran/penjualan jika komputer tersebut dimanfaatkan oleh bagian tersebut. Atau boleh jadi pula beban depresiasi komputer tersebut merupakan kelompok beban adminstratif jika komputernya digunakan oleh bagian kantor atau administrasi. Oleh karena itulah kita harus dapat mengklasifikasikan setiap beban ke dalam kelompok biaya yang tepat karena berdasarkan laporan tersebut kinerja suatu bagian/seseorang akan diukur.
Beban pokok produksi (Cost of Goods Manufactured)
Biaya barang yang telah diselesaikan selama suatu periode disebut beban pokok produksi barang selesai (cost of goods manufactured) atau disingkat dengan beban pokok produksi. Harga pokok ini terdiri dari biaya pabrik ditambah persediaan dalam proses awal periode dikurangi persediaan dalam proses akhir periode. Beban pokok produksi selama suatu periode dilaporkan dalam laporan harga produksi (cost of goods manufactured statement). Laporan ini merupakan bagian dari beban pokok penjualan (cost of goods sold).
Akuntansi Perusahaan Manufaktur
Seperti telah dijelaskan, siklus akuntansi meliputi tahap pencatatan dan tahap pengikhtisaran yang terdiri dari:
Tahap pencatatan
1. Pembuatan atau penerimaan bukti transaksi
2. Pencatatan dalam jurnal
3. Pemindahanbukuan ( posting ) ke buku besar
Tahap pengikhtisaran
4. Pembuatan neraca saldo
5. Pembuatan neraca lajur dan jurnal penyelesaian
6. Penyusunan laporan keuangan
7. Pembuatan jurnal penutup
8. Pembuatan neraca saldo penutup
9. Pembuatan jurnal balik
Bab ini tidak akan membahas tahap demi tahap siklus tersebut.
Pembahasan perusahaan manufaktur di sini lebih pada menguraikan tahap-tahap tersebut secara garis besar saja. Penekanan diberikan pada proses akuntansi untuk masing-masing akun/rekening/perkiraan perusahaan manufaktur (ketiga istilah ini dipakai seluruhnya, secara bergantian, sepanjang pembahasan dalam buku ini untuk menunjukkan bahwa ketiganya merupakan istilah yang lazim dipakai sehari-hari dalam praktik pada DU/DI). Namun demikian, tetap diharapkan bahwa pemaparan berikut ini telah mencakup semua pemahaman minimal yang diperlukan untuk dapat menjalankan proses akuntansi pada sebuah perusahaan manufaktur.
Bahan Baku (Raw Materials)
Pembelian bahan baku, seperti halnya perusahaan dagang, dicatat dalam buku pembelian (untuk pembelian kredit) dan buku pengeluaran kas (untuk pembelian tunai). Pembayaran hutang yang bersangkutan dicatat dalam buku pengeluaran kas. Di buku besar, pembelian bahan baku dicatat dalam rekening pembelian dan rekening-rekening lain yang berhubungan, misalnya potongan pembelian serta pembelian retur dan pengurangan harga. Pengeluaran bahan baku dari gudang untuk produksi tidak dicatat.
Jadi, seperti dalam perusahaan dagang, perkiraan persediaan bahan baku hanya digunakan untuk menampung ayat jurnal penyesuaian pada akhir periode. Jurnal penyesuaian dibuat untuk nilai persediaan yang ada di awal dan akhir periode. Sementara itu, nilai persediaan ditentukan dengan mengadakan penghitungan fisik. Jurnal penyesuaian untuk persediaan (awal dan akhir) dilakukan terhadap rekening Ikhtisar Beban pokok produksi.
Tenaga Kerja Langsung (Direct Labor)
Pembayaran gaji kepada tenaga kerja langsung dicatat dalam buku pengeluaran kas. Dalam buku perlu disediakan perkiraan tersendiri untuk biaya buruh langsung. Pada akhir periode dibuatkan jurnal penyesuaian untuk upah yang masih belum saatnya dibayar. Pembebanan biaya buruh langsung dilakukan dengan mambuat jurnal penutup ke rekening Ikhtisar Beban pokok produksi.
Biaya Overhead Pabrik (Overhead)
Biaya ini terdiri dari berbagai jenis, misalnya: bahan pembantu, tenga keja tidak langsung, gaji, listrik, telepon, perlengkapan pabrik, pemeliharaan dan perbaikan, asuransi, penyusutan bangunan pabrik, penyusutan mesin-mesin pabrik, penyusutan kendaraan pabrik, penyusutan peralatan pabrik dan lain-lain. Untuk tiap-tiap jenis biaya dapat dibuatkan rekening tersendiri di buku besar. Atau, kalau ingin lebih sederhana, dalam buku besar hanya disediakan satu rekening saja yaitu biaya overhead pabrik sebagai rekening induk (sesungguhnya). Rincian biaya overhead pabrik ke dalam tiap-tiap jenis biaya dicatat dalam buku tambahan. Pembelian biaya overhead pabrik, misalnya pembelian bahan pembantu, dicatat dalam buku pembelian. Pembayarannya, dicatat dalam buku pengeluaran kas. Pembebanan biaya overhead pabrik ke dalam produksi dilakukan dengan membuat jurnal penutup atas rekening yang bersangkutan. Rekening lawanya adalah Ikhtisar Beban pokok produksi.
Persediaan dalam Proses ( Work in Process Inventory )
Proses produksi adalah kegiatan yang berlangsung terus menerus. Sementara itu, akuntansi harus melaporkan informasi keuangan secara berkala. Akibatnya, pada saat laporan keuangan harus dibuat, terdapat kemungkinan adanya sebagian barang yang belum selesai diproses. Walaupun demikian, biaya yang telah terjadi untuk barang itu, tetap harus dilaporkan. Inilah yang dicantumkan sebagai persediaan dalam proses. Untuk memperoleh beban pokok produksi barang yang telah selesai, biaya pabrik ditambah dengan nilai persediaan dalam proses di awal periode dan dikurangi dengan nilai persediaan dalam proses di akhir periode.
Pesediaan dalam proses, baik di awal maupun akhir periode diperoleh dengan jalan melakukan penghitungan phisik. Untuk sementara, jangan diperhatikan dahulu bagaimana menghitung nilai persediaan dalam proses. Yang perlu diketahui adalah bahwa nila ini terdiri dari biaya bahan baku, buruh langsung dan biaya pabrikase yang telah terjadi sampai dengan saat dilaporkan. Untuk mencatat nilai persediaan dalam proses, dibuatkan rekening yang diberi nama: “Persediaan dalam Proses”. Pada akhir periode dibuat jurnal penyesuaian untuk menghilangkan persediaan dalam proses awal dan membebankannya ke proses produksi. Sementara itu, jurnal penyesuaian lain untuk menimbulkan persediaan dalam proses yang ada pada akhir periode. Rekening lawan yang digunakan dalam jurnal penyesuaian tersebut adalah Ikhtisar Beban pokok produksi.
Di bawah ini (pada halaman berikut) diberikan ilustrasi tentang alur pembebanan biaya ke dalam proses produksi hingga pengakuan beban pokok penjualan. Alur ini digambarkan dalam bentuk hubungan di antara buku besar perkiraan-perkiraan yang terkait dengan proses produksi dalam sebuah perusahaan manufaktur. Kita dapat melihat di situ, apa saja perkiraan yang terkait dan harus dibuatkan jurnalnya selama proses produksi berlangsung, dan kapan masing-masing perkiraan tersebut harus didebitkan atau dikreditkan. Tentu saja, ilustrasi tersebut menggambarkan pencatatan yang harus dibuat ketika perusahaan menerapkan metode perpetual untuk persediaannya.

Minggu, 16 Juni 2013

Soal : Sistem Operasi

1. Sebutkan macam-macam atribut pada berkas!

Atribut berkas terdiri dari:
  1. Nama merupakan satu-satunya informasi yang tetap dalam bentuk yang bisa dibaca oleh manusia (human-readable form).
  2. Type dibutuhkan untuk sistem yang mendukung beberapa type berbeda
  3. Lokasi merupakan pointer ke device dan ke lokasi berkas pada device tersebut
  4. Ukuran (size) yaitu ukuran berkas pada saat itu, baik dalam byte, huruf, atau pun blok
  5. Proteksi adalah informasi mengenai kontrol akses, misalnya siapa saja yang boleh membaca, menulis, dan mengeksekusi berkas
  6. Waktu, tanggal dan identifikasi pengguna informasi ini biasanya disimpan untuk:
- pembuatan berkas
- modifikasi terakhir yang dilakukan pada berkas, dan
- modifikasi terakhir yang dilakukan pada berkas, dan
- modifikasi terakhir yang dilakukan pada berkas, dan
- penggunaan terakhir berkas

2. Operasi apa sajakah yang dapat diterapkan pada sebuah berkas?

Operasi Pada Berkas
  • Membuat sebuah berkas: Ada dua cara dalam membuat berkas. Pertama, tempat baru di dalam sistem berkas harus di alokasikan untuk berkas yang akan dibuat. Kedua, sebuah direktori harus mempersiapkan tempat untuk berkas baru, kemudian direktori tersebut akan mencatat nama berkas dan lokasinya pada sistem berkas.
  • Menulis pada sebuah berkas: Untuk menulis pada berkas, kita menggunakan system call beserta nama berkas yang akan ditulisi dan informasi apa yang akan ditulis pada berkas.  Ketika diberi nama berkas, sistem mencari ke direktori untuk mendapatkan lokasi berkas. Sistem juga harus menyimpan penunjuk tulis pada berkas dimana penulisan berikut akan ditempatkan. Penunjuk tulis harus diperbaharui setiap terjadi penulisan pada berkas.
  • Membaca sebuah berkas: Untuk dapat membaca berkas, kita menggunakan system call beserta nama berkas dan di blok memori mana berkas berikutnya diletakkan. Sama seperti menulis, direktori mencari berkas yang akan dibaca, dan sistem menyimpan penunjuk baca pada berkas dimana pembacaan berikutnya akan terjadi. Ketika pembacaan dimulai, penunjuk baca harus diperbaharui.Sehingga secara umum, suatu berkas ketika sedang dibaca atau ditulis, kebanyakan sistem hanya mempunyai satu penunjuk, baca dan tulis menggunakan penunjuk yang sama, hal ini menghemat tempat dan mengurangi kompleksitas sistem.
  • Menempatkan kembali sebuah berkas: Direktori yang bertugas untuk mencari berkas yang bersesuaian, dan mengembalikan lokasi berkas pada saat itu. Menempatkan berkas tidak perlu melibatkan proses I/O. Operasi sering disebut pencarian berkas.
  •  Menghapus sebuah berkas: Untuk menghapus berkas kita perlu mencari berkas tersebut di dalam direktori. Setelah ditemukan kita membebaskan tempat yang dipakai berkas tersebut (sehingga dapat digunakkan oleh berkas lain) dan menghapus tempatnya di direktori.
  • Memendekkan berkas: Ada suatu keadaan dimana pengguna menginginkan atribut dari berkas tetap sama tetapi ingin menghapus isi dari berkas tersebut. Fungsi ini mengizinkan semua atribut tetap sama tetapi panjang berkas menjadi nol, hal ini lebih baik dari pada memaksa pengguna untuk menghapus berkas dan membuatnya lagi.

3. Sebutkan informasi yang terkait dengan pembukaan berkas!

informasi yang terkait dengan pembukaan berkas yaitu:
  • Penunjuk Berkas: Pada sistem yang tidak mengikutkan batas berkas sebagai bagian dari system call baca dan tulis, sistem tersebut harus mengikuti posisi dimana terakhir proses baca dan tulis sebagai penunjuk. Penunjuk ini unik untuk setiap operasi pada berkas, maka dari itu harus disimpan terpisah dari atribut berkas yang ada pada disk.
  • Penghitung berkas yang terbuka: Setelah berkas ditutup, sistem harus mengosongkan kembali tabel berkas yang dibuka yang digunakan oleh berkas tadi atau tempat di tabel akan habis. Karena mungkin ada beberapa proses yang membuka berkas secara bersamaan dan sistem harus menunggu sampai berkas tersebut ditutup sebelum mengosongkan tempatnya di tabel. Penghitung ini mencatat banyaknya berkas yang telah dibuka dan ditutup, dan menjadi nol ketika yang terakhir membaca berkas menutup berkas tersebut barulah sistem dapat mengosongkan tempatnya di tabel.
  • Lokasi berkas pada disk: Kebanyakan operasi pada berkas memerlukan sistem untuk mengubah data yang ada pada berkas. Informasi mengenai lokasi berkas pada disk disimpan di memori agar menghindari banyak pembacaan pada disk untuk setiap operasi.

4. Sebutkan dan jelaskan metode alokasi pada sistem berkas!

Metode Alokasi Berkas

1. Alokasi Secara Berdampingan (Contiguous Allocation).
    Metode ini menempatkan setiap berkas pada satu himpunan blok yang berurut di dalam disk. Alamat disk menyatakan sebuah urutan linier. Dengan urutan linier ini maka head disk hanya bergerak jika mengakses dari sektor terakhir suatu silinder ke sektor pertama silinder berikutnya. Waktu pencarian (seek time) dan banyak disk seek yang dibutuhkan untuk mengakses berkas yang di alokasi secara berdampingan ini sangat minimal. Contoh dari sistem operasi yang menggunakan contiguous allocation adalah IBM VM/ CMS karena pendekatan ini menghasilkan performa yang baik.

2. Alokasi Secara Berangkai (Linked Allocation).
    Metode ini menyelesaikan semua masalah yang terdapat pada contiguous allocation. Dengan metode ini, setiap berkas merupakan linked list dari blok-blok disk, dimana blok-blok disk dapat tersebar di dalam disk. Setiap direktori berisi sebuah penunjuk (pointer) ke awal dan akhir blok sebuah berkas. Setiap blok mempunyai penunjuk ke blok berikutnya. Untuk membuat berkas baru, kita dengan mudah membuat masukan baru dalam direktori. Dengan metode ini, setiap direktori masukan mempunyai penunjuk ke awal blok disk dari berkas. Penunjuk ini diinisialisasi menjadi nil (nilai penunjuk untuk akhir dari list) untuk menandakan berkas kosong. Ukurannya juga diset menjadi 0. Penulisan suatu berkas menyebabkan ditemukannya blok yang kosong melalui sistem manajemen ruang kosong (free-space management system), dan blok baru ini ditulis dan disambungkan ke akhir berkas. Untuk membaca suatu berkas, cukup dengan membaca blok-blok dengan mengikuti pergerakan penunjuk.

3. Alokasi Dengan Indeks (Indexed Allocation).
    Metode alokasi dengan berangkai dapat menyelesaikan masalah fragmentasi eksternal dan pendeklarasian ukuran dari metode alokasi berdampingan. Bagaimana pun tanpa FAT, metode alokasi berangkai tidak mendukung keefisiensian akses langsung, karena penunjuk ke bloknya berserakan dengan bloknya didalam disk dan perlu didapatkan secara berurutan. Metode alokasi dengan indeks menyelesaikan masalah ini dengan mengumpulkan semua penunjuk menjadi dalam satu lokasi yang dinamakan blok indeks (index block). Setiap berkas mempunyai blok indeks, yang merupakan sebuah larik array dari alamat-alamat disk-blok. Direktori mempunyai alamat dari blok indeks. Ketika berkas dibuat, semua penunjuk dalam blok indeks di set menjadi nil. Ketika blok ke-i pertama kali ditulis, sebuah blok didapat dari pengatur ruang kosong free-space manager dan alamatnya diletakkan ke dalam blok indeks ke-i. Metode ini mendukung akses secara langsung, tanpa mengalami fragmentasi eksternal karena blok kosong mana pun dalam disk dapat memenuhi permintaan ruang tambahan. Tetapi metode ini dapat menyebabkan ada ruang yang terbuang. Penunjuk yang berlebihan dari blok indeks secara umum lebih besar dari yang terjadi pada metode alokasi berangkai.

5. Sebutkan dan jelaskan operasi pada direktori?

Operasi-operasi yang dapat dilakukan pada direktori adalah:
  1. Mencari berkas, kita dapat menemukan sebuah berkas didalam sebuah struktur direktori. Karena berkas-berkas memiliki nama simbolik dan nama yang sama dapat mengindikasikan keterkaitan antara setiap berkas-berkas tersebut, mungkin kita berkeinginan untuk dapat menemukan seluruh berkas yang nama-nama berkas membentuk pola khusus.
  2. Membuat berkas, kita dapat membuat berkas baru dan menambahkan berkas tersebut kedalam direktori.
  3. Menghapus berkas, apabila berkas sudah tidak diperlukan lagi, kita dapat menghapus berkas tersebut dari direktori.
  4. Menampilkan isi direktori, kita dapat menampilkan seluruh berkas dalam direktori, dan kandungan isi direktori untuk setiap berkas dalam daftar tersebut.
  5. Mengganti nama berkas, karena nama berkas merepresentasikan isi dari berkas kepada user, maka user dapat merubah nama berkas ketika isi atau penggunaan berkas berubah.  Perubahan nama dapat merubah posisi berkas dalam direktori.
  6. Melintasi sistem berkas, ini sangat berguna untuk mengakses direktori dan berkas didalam struktur direktori.

6. Sebutkan dan Jelaskan tentang tipe akses pada berkas?
    Tipe Akses Pada Berk

1) Akses Secara Berurutan
    Ketika digunakan, informasi penyimpanan berkas harus dapat diakses dan dibaca ke dalam memori komputer. Beberapa sistem hanya menyediakan satu metode akses untuk berkas.

2) Akses Langsung
    Merupakan metode yang membiarkan program membaca dan menulis dengan cepat pada berkas yang dibuat dengan fixed-length logical order tanpa adanya urutan. Metode ini sangat berguna untuk mengakses informasi dalam jumlah besar. Biasanya database memerlukan hal seperti ini. Operasi berkas pada metode ini harus dimodifikasi untuk menambahkan nomor blok sebagai parameter. Pengguna menyediakan nomor blok ke sistem operasi biasanya sebagai nomor blok relatif, yaitu indeks relatif terhadap awal berkas. Penggunaan nomor blok relatif bagi sistem operasi adalah untuk memutuskan lokasi berkas diletakkan dan membantu mencegah pengguna dari pengaksesan suatu bagian sistem berkas yang bukan bagian pengguna tersebut.

3) Akses Dengan Menggunakan Indeks
     Metode ini merupakan hasil dari pengembangan metode direct access. Metode ini memasukkan indeks untuk mengakses berkas. Jadi untuk mendapatkan suatu informasi suatu berkas, kita mencari dahulu di indeks, lalu menggunakan pointer untuk mengakses berkas dan mendapatkan informasi tersebut. Namun metode ini memiliki kekurangan, yaitu apabila berkas-berkas besar, maka indeks berkas tersebut akan semakin besar. Jadi solusinya adalah dengan membuat 2 indeks, indeks primer dan indeks sekunder. Indeks primer memuat pointer ke indeks sekunder, lalu indeks sekunder menunjuk ke data yang dimaksud.

7. Sebutkan dan jelaskan bagaimana cara mengatur free space?

Manajemen Free Space

1. Menggunakan Bit Vektor.

Tiap blok direpresentasikan sebagai 1 bit. Jika blok tersebut kosong maka isi bitnya 1 dan jika bloknya sedang dialokasikan maka isi bitnya 0. Sebagai contoh sebuah disk dimana blok 2, 3, 4, 5, 8, 9, 10, 11, 12, 13, 17, 18, 25, 26 dan 27 adalah kosong, dan sisanya dialokasikan.

Bit mapnya akan seperti berikut:

001111001111110001100000011100000…

Keuntungan utama dari pendekatan ini adalah relatif sederhana dan efisien untuk mencari blok pertama yang kosong atau berturut-turut n blok yang kosong pada disk. Banyak komputer yang menyediakan instruksi manipulasi bit yang dapat digunakan secara efektif untuk tujuan ini.

    1. Linked List.

Pendekatan lain adalah untuk menghubungkan semua blok yang kosong, menyimpan pointer ke blok pertama yang kosong di tempat yang khusus pada disk dan menyimpannya di memori. Blok pertama ini menyimpan pointer ke blok kosong berikutnya dan seterusnya.

    2. Grouping.

Modifikasi lainnya adalah dengan menyimpan alamat dari n blok kosong pada blok kosong pertama. Pada n-1 pertama dari blok-blok ini adalah kosong. Blok terakhir menyimpan alamat n blok kosong lainnya dan seterusnya. Keuntungannya dari implementasi seperti ini adalah alamat dari blok kosong yang besar sekali dapat ditemukan dengan cepat, tidak seperti pendekatan standar linked-list.

    3. Counting.

Pendekatan lain adalah dengan mengambil keuntungan dari fakta bahwa beberapa blok yang berkesinambungan akan dialokasikan atau dibebaskan secara simultan. Maka dari itu dari pada menyimpan daftar dari banyak alamat disk, kita dapat menyimpan alamat dari blok kosong pertama dan jumlah dari blok kosong yang berkesinambungan yang mengikuti blok kosong pertama. Tiap isi dari daftar menyimpan alamat disk dan penghitung (counter). Meski pun setiap isi membutuhkan tempat lebih tetapi secara keseluruhan daftar akan lebih pendek, selama count lebih dari satu.

8. Bagaimanakah implementasi dari sebuah direktori dalam disk?

Implementasi Direktori

    1. Linear List.
        Metode paling sederhana dalam mengimplementasikan sebuah direktori adalah dengan menggunakan linear list dari nama berkas dengan penunjuk ke blok data. Linear list dari direktori memerlukan pencarian searah untuk mencari suatu direktori didalamnya. Metode sederhana untuk di program tetapi memakan waktu lama ketika dieksekusi. Untuk membuat berkas baru harus mencari di dalam direktori untuk meyakinkan bahwa tidak ada berkas yang bernama sama. Lalu tambahkan sebuah berkas baru pada akhir direktori. Untuk menghapus sebuah berkas, harus mencari berkas tersebut dalam direktori, lalu melepaskan tempat yang dialokasikan untuknya. Untuk menggunakan kembali suatu berkas dalam direktori dapat melakukan beberapa hal.
  • Dapat menandai berkas tersebut sebagai tidak terpakai (dengan menamainya secara khusus, seperti nama yang kosong, atau bit terpakai atau tidak yang ditambahkan pada berkas), atau kita dapat menambahkannya pada daftar direktori bebas.
  • Menyalin ke tempat yang dikosongkan pada direktori Kelemahan dari linear list ini adalah percarian searah untuk mencari sebuah berkas. Direktori yang berisi informasi sering digunakan, implementasi yang lambat pada cara aksesnya

2. Hash Table.
    Dalam metode ini linear list menyimpan direktori, tetapi struktur data hash juga digunakan. Hash table mengambil nilai yang dihitung dari nama berkas dan mengembalikan sebuah penunjuk ke nama berkas yang ada di-linear list. Maka dari itu dapat memotong banyak biaya pencarian direktori. Memasukkan dan menghapus berkas juga lebih mudah dan cepat. Meski demikian beberapa aturan harus dibuat untuk mncegah tabrakan, situasi dimana dua nama berkas pada hash mempunyai tempat yang sama. Kesulitan utama dalam hash table adalah ukuran tetap dari hash table dan ketergantungan dari fungsi hash dengan ukuran hash table.

9. Sebutkan keunggulan dari sistem berkas dalam UNIX dengan sistem berkas pada WINDOWS?
    Keunggulan system berkas pada UNIX adalah sistem berkas UNIX lebih hebat dan mudah diatur daripada Windows. Sistem UNIX menggunakan case sensitive, yang artinya nama suatu berkas yang sama jika dibaca, tetapi penulisan namanya berbeda dalam hal ada satu file yang menggunakan huruf kapital dalam penamaan dan satu tidak akan berbeda dalam UNIX. Contohnya ada berkas bernama berkasdaku.txt dan BerkasDaku.txt, jika dibaca nama berkasnya sama tetapi dalam UNIX ini merupakan dua berkas yang jauh berbeda. Jika berkas-berkas ini berada di sistem Windows, mereka menunjuk ke berkas yang sama yang berarti Windows tidak case sensitive. Hal lain yang membedakan sistem berkas UNIX dengan Windows adalah UNIX tidak menggunakan drive letter seperti C:, D: dalam Windows. Tetapi semua partisi dan drive ekstra di mount didalam sub-direktori di bawah direktori root. Jadi pengguna tidak harus bingung di drive letter mana suatu berkas berada sehingga seluruh sistem seperti satu sistem berkas yang berurutan dari direktori root menurun secara hierarki.

10. Bagaimanakah langkah-langkah dalam proses back-up?

Penjadualan back up yang umum sebagai berikut:

    Hari 1: Salin ke tempat penyimpanan back up semua berkas dari disk, disebut sebuah full backup.
    Hari 2: Salin ke tempat penyimpanan lain semua berkas yang berubah sejak hari 1, disebut incremental backup.
    Hari 3: Salin ke tempat peyimpanan lain semua berkas yang berubah sejak hari 2.
    Hari N: salin ke tempat penyimpanan lain semua berkas yang berubah sejak hari N-1, lalu kembali ke hari 1.

    Keuntungan dari siklus backup ini adalah kita dapat menempatkan kembali berkas mana pun yang tidaksengaja terhapus pada waktu siklus dengan mendapatkannya dari back up hari sebelumnya. Panjang dari siklus disetujui antara banyaknya tempat penyimpanan backup yang diperlukan dan jumlah hari kebelakang dari penempatan kembali dapat dilakukan